Sabtu, 23 Agustus 2008

Deklarasi Hassanudin

Latar Belakang…

Pemuda merupakan asset bangsa yang akan meneruskan bangsa dan menentukan masa depan sebuah bangsa. Sejarah Indonesia membuktikan bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak terlepas dari peran para pemudanya. Baik revolusi maupun reformasi yang terjadi di bangsa ini dilahirkan dari ide-ide besar para pemudanya. Pemuda selalu hadir sebagai aktor sejarah dalam perjalanan panjang perjuangan bangsa ini.

Tepat seabad yang lalu, dari rahim para pemuda kedokteran Indonesia lah bangsa ini memulai semangat baru perjuangan merebut kemerdekaan. Pada hari minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo, suatu gerakan nasionalis pertama yang diprakarsai oleh soetomo. Momentum inilah yang saat ini dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional.

Saat itu para pemuda mahasiswa kedokteran telah mampu membuktikan bahwa mahasiswa kedokteran dapat menjadi inisiator perjuangan bangsanya. Inspirasi mereka muncul disaat mereka melihat secara langsung bagaimana kondisi bangsa saat itu. Mereka melihat dan merasakan bagaimana menderitanya masyarakat saat itu, dan dengan kepekaan nurani mereka menjadikannya sebagai pembangkit energi dalam diri mereka dan bersatu untuk membangkitkan bangsa ini.

Namun, bagaimana dengan pemuda mahasiswa kedokteran saat ini, kemanakah mereka? Yang dulu mampu mengukir sejarah bangsa ini. Ironis sekali, kepekaan mereka sekarang telah terkikis habis, mereka tidak lagi merasakan penderitaan masyarakat. Saat ini kita terlalu terlena dan terpenjara dengan urusan-urusan akademis di kampus. Kita saat ini terlalu mengagung-agungkan hedonisme dunia yang sebenarnya terlalu singkat. Padahal, bangsa ini sangat berharap kepada para pemudanya, pemuda yang berintelektual, yang mampu bergerak dan berjuang untuk kesejahteraan bangsa ini.

Maka, di saat momentum 100 tahun kebangkitan nasional, kita semua mahasiswa kedokteran Indonesia akan berikrar untuk menjemput takdir membangun dan membawa bangsa ini menuju takdirnya sebagai pemimpin peradaban.

Tujuan Kegiatan…

1. Melakukan penyadaran kepada mahasiswa kedokteran selurauh Indonesia akan pentingnya “3 jati diri mahasiswa kedokteran Indonesia ( agent of health, agent of change, dan agent of development)” sebagai jawaban atas harapan seluruh bangsa yang menginginkan para pemudanya mampu mengubah sejarah bangsa Indonesia yang mengalami keterpurukan khususnya dalam masalah kesehatan.

2. Melakukan sinergisasi gerakan dan penyamaan persepsi dan pemahaman tentang pergerakan mahasiswa kedokteran Indonesia melalui sebuah deklarasi dan point kesepakatan.

3. Merumuskan kontribusi real yang dapat dilakukan oleh mahasiswa kedokteran Indonesia atas permasalahan bangsa khususnya masalah kesehatan.

Bentuk kegiatan…

Peringatan hari kebangkitan nasional ( harkitnas ) merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa kedokteran serempak di tingkat nasional dan institusi dalam hal ini kita menyebutnya dengan istilah 2 main stream ( nasional dan institusi ) dan 3 fase (pra-Harkitnas, Harkitnas, dan post-Harkitnas). Berdasarkan dari jati diri mahasiswa kedokteran yang telah disepakati dalam mukernas ISMKI dengan No : 08/K-MUKERNAS XIV/1/2008 yakni sebagai agent of health, agent of change, dan agent of development maka kegiatan peringatan hari kebangkitan nasional yang dilaksanakan baik di nasional, wilayah maupun institusi harus bermuara pada pencapaian mahasiswa kedokteran yang memiliki 3 jati diri tersebut.

Hasil Kegiatan…

Copy-of-Spanduk-8m-x-4m.jpg

Point-point Kesepakatan

1. Jati diri mahasiswa kedokteran Indonesia

· Beriman dan bertakwa

· Agent of change

· Iron stock

· Guardian of value

· Intellectuals

· Care provider (agent of health)

· Decision maker

· Community leader

· Manager

· Communicator

· Integrity

· Agent of development

· Researcher

· Collegalism

2. Kespakatan Bersama Terkait dengan Revitalisasi Jati Diri Mahasiswa Kedokteran Indonesia

Seluruh senat mahasiswa/BEM/LEM/PEMA fakultas kedokteran se-Indonesia bertanggung jawab terhadap optimalisasi jati diri mahasiswa kedokteran di kampus masing-masing dan menyediakan apa yang dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut yaitu :

1) Masalah akademik : dilakukan peninjauan kembali dan advokasi kurikulum akademik (eksekutor : institusi dan dinaungi oleh PenPro ISMKI).

2) Sarana dan prasarana : dilakukan program advokasi untuk penyediaan sarana dan prasarana (eksekutor : institusi dan dinaungi oleh Kastrat ISMKI).

3) Kemahasiswaan : dibuatnya kurikulum kemahasiswaan bagi mahasiswa kedokteran Indonesia dengan standardisasi minimal yang dibuat leh ISMKI, dengan cara dibentuk sebuah tim lintas bidang terdiri dari PenPro, PSDM, Kastrat, SSC ditambah element-element lain bila dibutuhkan (eksekutor : tim nasional dan tim institusi).

Seluruh institusi wajib berkomitmen dan bekerja sama dalam mewujudkan kesepakatan ini.

1. Isu-isu Kesehatan

1) Kebijakan pemerintah cenderung masih kuratif dan rehabilitatif tidak preventif dan promotif, terlihat dari gizi buruk, paradigm sakit dalam pelayanan kesehatan, angka kematian ibu dan anak, pemanfaatan Puskesmas dan Posyandu yang tidak optimal.

2) Pemerintah belum bias menjamin hak kesehatan, sebagai konsekuensi dari anggaran yang kesehatan yang tidak sesuai dan tidak merata.

3) Distribusi dokter yang tidak merata di Bumi Pertiwi.

4) Rendahnya pengetahuan mayarakat akan pentingnya pola hidup sehat.

5) Kurangnya data statistik informasi kesehatan.

6) Standardisasi harga maksimum obat paten.

7) Kelangkaan obat generik tertentu.

Rekomendasi

1) Membentuk kelompok yang akan membahas time schedule pembahasan isu.

2) Hasil kajian ini dibawa ke institusi masing-masing dan dibahas untuk merumuskan solusinya.

3) Membuat positioning paper berisi langkah-langkah solusi dan hal-hal yang akan diperjuangkan.

4) Membuat rekomendasi kebijakan untuk pemerintah.

2. Isu Rokok

1. Kesadaran perokok

a. Visualisasi pendidikan bahaya rokok pada anak, bisa dilakukan secara langsung atau desa binaan.

b. Mengajak langsung ke penderita.

c. Pemberian poster berkenaan dengan bahaya merokok.

2. Pembebasan lingkungan insan kesehatan dari semua aspek rokok

a. Advokasi ke setiap pemimpin lembaga kesehatan dan lembaga pendidikan kesehatan yang belum mempunyai aturan kawasan bebas rokok.

b. Adanya surat peringatan yang dikeluarkan oleh setiap pemimpin untuk kawasan FK bebas rokok.

c. Adanya sanksi pada pelanggarnya.

d. Tiap dokter dianjurkan untuk memberi edukasi ke pasien melalui peraturan dari IDI tentang bahaya merokok.

3. Advokasi pemerintah

a. Setiap institusi melalui ISMKI dapat mengadvokasi pemerintah untuk membuat beserta memberlakukan PERDA anti rokok (dari kota ke wilayah)

b. Adanya “PETISI” pada pemerintah dari mahasiswa kedokteran

c. UU yang tegas untuk perokok dewasa.

d. ISMKI melalui MoU pada pemerintah untuk menindak tegas terhadap pelanggaran PERDA terhadap anti rokok.

4. Iklan layanan masyarakat

5. Gebrakan melalui tulisan ilmiah yang mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah dan bahaya rokok propaganda media cetak.

6. “AKSI STOP ROKOK” pada hari antitobacco 31 mei di masing-masing institusi

3. Isu-isu non Kesehatan

a. Nasionalisasi asset bangsa

b. Kenaikan harga BBM

c. Wujudkan pendidikan yang bermutu dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia

d. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok demi rakyat

e. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan

Minggu, 17 Agustus 2008

Memaknai Hakikat Kemerdekaan

Hari ini, 63 tahun yang lalu tepatnya, bangsa kita memproklamasikan kemerdekaanya. Kata demi kata yang keluar dari mulut Bung Karno saat itu seolah menjadi akhir penantian panjang rakyat Indonesia atas satu kata “kemerdekaan”. Ironis memang, di satu sisi kita menikmati utopia rasa kemerdekaan ini, tetapi kalau kita renungkan kembali di sisi lain apakah kita benar-benar telah merdeka? Apakah kita telah mengisi kemerdekaan kita ini dengan sesuatu yang bermakna? Jawabannya bisa kita pikirkan sendiri. Tetapi saya akan mencoba memberikan beberapa fakta-fakta tentang apa yang terjadi di Indonesia saat ini, teman-teman boleh menyetujuinya ataupun boleh tidak menyetujuinya.

Tahukah teman-teman bahwa dalam usia kemerdekaannya yang sudah 63 tahun, bangsa kita masih berada di urutan negara-negara miskin di dunia ini. Apakah hal ini disebabkan banyaknya pemimpin yang tamak? Pemimpin yang memakan hak rakyat. Negara kita menduduki peringkat tiga besar dunia dalam hal korupsi. Benar-benar prestasi yang “membanggakan” bagi negara yang merdeka selama 63 tahun ini. Entah berapa banyak darah yang telah tumpah untuk memperjuangkan keadilan di negeri ini. Mulai dari Budi Utomo, peristiwa malari, sampai tragedi Trisakti yang merupakan awal reformasi. Sampai sekarang korupsi masih saja tetap menjadi penyakit kronis bangsa ini yang kian hari kian mencekik rakyat dan memiskinkan negara ini.

Mungkin sering sekali kita mendengar bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kaya. Bangsa yang dilimpahi kekayaan sumber daya alam dari Sabang sampai Merauke. Lalu kenapa masih banyak pengemis? Anak-anak jalanan? Mungkin permasalahannya bukanlah tentang kaya atau tidaknya sumber daya alam kita, tetapi bagaimana sumber daya manusia kita mampu mengolahnya atau tidak. Hal ini berarti faktor sumber daya manusia merupakan faktor krusial yang merupakan salah satu hal penting yang dapat menunjang kemajuan bangsa.

Faktor sumber daya manusia tersebut membawa kita kepada hal lain yang berkaitan erat dengan sumber daya manusia, yaitu faktor pendidikan. Sebuah pepatah pernah mengatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa ditentukan berapa banyak doktor yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Jangankan doktor, bahkan sebagian besar rakyat Indonesia masih banyak yang buta huruf. Tingkat pendidikan yang rendah ini kemudian semakin menambah parahnya masalah pengangguran yang semakin akut di negara ini. Mirisnya lagi bahwa sebagian besar pengangguran tersebut bertitel sarjana. Lalu apa sebenarnya yang salah dengan negara ini? Mengapa begitu banyak sarjana tetapi tetap saja sulit mendapatkan pekerjaan? Pertanyaanya apakah sarjana-sarjana tersebut cukup berkompeten untuk memasuki dunia kerja? Apakah lapangan pekerjaan yang ada cukup memadai untuk menampung sarjana-sarjana tersebut? Mungkin salah satu inti permasalahannya bahwa jarang dari kita yang berupaya menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Sebagian besar sarjana menggantungkan hidupnya terhadap lapangan pekerjaan yang telah ada yang sebenarnya memang jauh tidak sebanding jumlahnya dibandingkan dengan jumlah pengangguran yang ada.

Hal itu hanya sebagian kecil dari permasalahan yang masih dihadapi bangsa ini, seandainya kalau kita runut semua masalah ini tentunya akan menjadi lingkaran setan yang tidak ada habisnya. Lalu bagaimanakah dengan diri kita sendiri? Sudahkan kita memaknai dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif? Ataukah kita lengah dan menjadikan kemerdekaan ini sebagai sarana untuk kita bersenang-senang dengan kehiupan yang hedonis? Apakah yang telah kita berikan untuk bangsa ini? Adakah satu saja kontribusi kita untuk kemajuan bangsa ini?

Bangsa kita memang memiliki berbagai permasalahan yang sangat pelik. Yang mungkin akan butuh waktu yang lama untuk membuat bangsa kita bangkit dari permasalahan-permasalahan ini. Lalu pada siapakah semua permasalahan ini akan dilimpahkan untuk diselesaikan? Tentu saja kepada kita para pemuda. Khalifah Umar R. A mengatakan, ”Jika aku mengalami masalah yang rumit, maka aku akan menyerahkannya pada pemuda”. Ya para pemuda yang masih memiliki semangat yang tinggi, pemuda yang masih memiliki idealisme yang murni yang belum terkotori dengan pemahaman-pemahaman yang menyimpang. Di pundak kitalah kemerdekaan ini akan diteruskan. Di pundak kitalah pemahaman-pemahaman ini akan dibawa untuk lebih dimaknai dan diisi. Serta di pundak kitalah bangsa ini akan kita bawa ke arah yang lebih baik. Kita harus memulainya teman. Mungkin tidak ada salahnya jika saya mengutip perkataan seorang ulama terkenal bahwa kita harus memulainya dengan 3M; mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini. Kita harus bisa memulainya, memberikan yang terbaik dari diri kita, dengan segala kemampuan yang kita miliki demi kemajuan bangsa ini. Seperti pepatah mengatakan bahwa sebuah perjalanan yang panjang dimulai dari setapak langkah kaki. Selamat melakukan perubahan dan pergerakan teman. Dirgahayu Indonesiaku. (/rif)

Selasa, 12 Agustus 2008

Totalitas

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

- Reff :Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Sekapur Sirih

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayahNyalah maka dinas kajian strategis BEM FK Universitas Lampung dapat membuat blognya. Dengan blog Dinas Kastrat BEM FK Universitas Lampung ini diharapkan mampu memfasilitasi kebutuhan mahasiswa akan menulis serta mampu menganalisis isu-isu yang berkembang di mahasiswa dan masyarakat khususnya isu seputar dunia kesehatan sehingga dapat memberikan output bagi mahasiswa serta masyarakat umum.