Minggu, 12 Oktober 2008

Sajak Anak Muda

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur
Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan
karena tidak diajarkan berpolitik dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus
karena tidak diajar filsafat atau logika
Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan untuk menjadi alat saja ?
inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA, pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan
Bukan pertukaran pikiran
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan
dan bukan ilmu latihan menguraikan
Dasar keadilan di dalam pergaulan
serta pengetahuan akan kelakuan manusia
sebagai kelompok atau sebagai pribadi
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang, tidak bisa kita hubung-hubungkan
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan
Lalu akhirnya, menikmati masa bodoh dan santai
Di dalam kegagapan, kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta
Kita tidak bisa memimpin
tetapi hanya bisa berkuasa
persis seperti bapak-bapak kita
Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan tanpa kegunaan
menjadi benalu di dahan
Gelap. Pandanganku gelap
Pendidikan tidak memberi pencerahan
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap
Orang yang hidup di dalam pengangguran
Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan
wajah berdarahakan terlihat sebagai bulan
Mengapa harus kita terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter
dianggap sebagai orang terpelajar
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan
Dan bila ada ada tirani merajalela
ia diam tidak bicara
kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara
sementara hukum
dikhianati berulang kali
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik
sementara ada kebangkrutan
dan banyak korupsi
Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan
Dan bila luput, kita memukul dan mencakar
ke arah udara
Kita adalah angkatan gagap
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar
Daya hidup telah diganti oleh nafsu
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan
Kita adalah angkatan yang berbahaya
Oleh: Lintang Aprilia-Kastrat BEM PFK Unila

Mahasiswa Kedokteran Unila,,“Apa yang Salah??”

Rutinitas kembali datang. Libur seminggu Lebaran hanyalah kejapan mata bagi mereka. Terlebih aktivitas duduk, mendengar, mencatat, dalam ruang sempit yang tak memadai pun alhasil juga membuat mereka tak sadar telah melewati sucinya bulan kemarin.
Indahnya cahaya pagi terkalahkan dengan kecepatan langkah kaki yang tergopoh-gopoh menuju “Gedung Cita”. Begitupun, teduhnya petang tak sampai ke mata mereka yang terlalu lesu akan “perjuangan”. Suramnya hidup bagi mereka yang mengaku mengejar cita. Siapakah mereka??
Kawan, itulah secuplik synopsis alur biografi kami, mahasiswa kedokteran Unila. Sebuah penggalan episode yang tak pantas mendapat decak kagum bagi siapapun yang membacanya. Kenapa? Karena ada unsur serba kekurangan dibalik semua itu. Kekurangan fasilitas belajar, ruang kuliah yang hanya bisa dimaklumi kesempitannya, dosen local yang hanya bisa menjadi moderator bagi para oknum-oknum OmDo (omong doang) dalam kelas yang sok-sokan berbicara ilmiah, padahal non sense makna. Dan alhasil hanya memunculkan sederetan mahasiswa melongo melihat hasil ujian yang artistic berbentuk rantai karbon.

Hello?? Apakah yang salah dari semua ini? Apakah IQ kami begitu jongkok sehingga sesuatu yang kami anggap “perjuangan” bernilai penyesalan yang tak lepas dari pernyataan konyol “apakah kami begitu bodoh, ya Allah?”

Sekali lagi, tidak ada semestinya pengajaran yang membuat muridnya malah merasa bodoh. Apakah yang salah dari system yang serba kekurangan ini? Keadaan kekurangan juga bukanlah alasan melihat banyaknya fakta dilapangan, sebut saja film keluaran terbaru saat ini Laskar Pelangi. Nyatanya murid jebolan SD kampoung pun berhasil menembus Sorbonne University di Perancis. Lalu apa yang salah kawan?









Kedokteran Unila,,kita terlalu amatlah kecil jika dibanding Kedokteran berumur tua nun jauh disana. Amat bodohlah kita jika membuat diri kita semakin kecil lagi dihadapan tembok tua nan kokoh itu,, dengan malah mengikiskan perlahan-lahan keyakinan pada diri kita sendiri.

“Bermimpilah, maka dengan begitu Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita.”
–Arai, Edensor-
(Lintang-Kastrat BEM PFK Unila)