Mungkin banyak dari kita yang telah mengetahui bahwa sejarah mencatat mahasiswa kedokteran sebagai salah satu oknum penggores tinta perjuangan dan pergerakan di negeri ini. Izinkanlah saya mengingatkan kembali betapa indahnya kenangan itu, kenangan di mana idealisme mahasiswa kedokteran masih sangat murni dan terjaga. Pergerakan mahasiswa kedokteran Indonesia dimulai sejak masa Budi Utomo, yaitu dimulai jauh sekali pada tahun 1908. Pada saat itu dr. Wahidin Sudirohusodo yang menggagas brdirinya organisasi Budi Utomo, hal ini dipicu oleh kesadaran akan pentingnya peranan pemuda untuk meraih kemerdekaan bangsa. Organisasi inilah yang kemudian memprakarsai munculnya organisasi-organisasi pemuda yang lain yang berperan dalam mencapai kemerdekaan bangsa ini.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, semua idealisme tersebut seolah-olah terkikis. Idealisme mahasiswa kedokteran mulai bergeser. Dengan alasan kepentingan kuliah dan menuntut ilmu, mahasiswa kedokteran masa kini cenderung apatis dengan keadaan yang ada, bahkan banyak di antara para mahasiswa tersebut yang mengisi harinya dengan gaya hedonis dan borjuis. Mereka seolah lupa bahwa mereka juga merupakan agent of change yaitu agen perubahan. Padahal kalu kita merujuk kepada five stars doctor mahasiswa kedokteran seharusnya mampu menguasai lima hal yaitu; care provider, communicator, community leader, decision maker, dan manager. Kalau kita lihat dari five stars doctor tersebut, satu-satunya yang kita dapat dari perkuliahan adalah care provider, sedangkan untuk mendapatkan yang lainnya kita harus mencarinya di luar bangku perkuliahan. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan empat bintang lainnya, seperti kita dapat mengikuti organisasi kemahasiswaan di kampus, aktif mengikui seminar-seminar, ataupun dengan rajin membaca buku-buku self-development.
Melihat fakta pergeseran idealisme seperti itu, maka sangatlah penting dicari jalan keluar untuk merevitalisasi kembali jati diri dari mahasiswa kedokteran Indonesia. Pada peringatan 100 tahun kebangkitan nasional di Makassar lalu, telah dilaksanakan sebuah deklarasi mahasiswa kedokteran Indonesia yang diberi nama Deklarasi Hasanuddin. Dimana deklarasi tersebut juga menghasilkan beberapa poin-poin kesepakatan tentang jati diri mahasiswa kedokteran Indonesia. Isi dari poin-poin tersebut antara lain; beriman dan bertakwa, agent of change, iron stock, Guardian or value, intellectuals, care provider (agent of health), decision maker, community leader, manager, communicator, integrity, agent of development, researcher, dan collegalism.
Oleh karena itu, pada peringatan hari mahasiswa kedokteran Indonesia tanggal 20 September ini, marilah kita bersama-sama merevitalisasi kembali jati diri dari mahasiswa kedokteran Indonesia. Kita kembalikan lagi idealisme mahasiswa kedokteran Indonesia sebagai agen perubahan, agen kesehatan, serta agen pembangunan serta kita kembalikan lagi peran kita sebagai ujung tombak pergerakan mahasiswa di Indonesia. Selamat hari mahasiswa kedokteran Indonesia. (/rif)
Namun seiring dengan berjalannya waktu, semua idealisme tersebut seolah-olah terkikis. Idealisme mahasiswa kedokteran mulai bergeser. Dengan alasan kepentingan kuliah dan menuntut ilmu, mahasiswa kedokteran masa kini cenderung apatis dengan keadaan yang ada, bahkan banyak di antara para mahasiswa tersebut yang mengisi harinya dengan gaya hedonis dan borjuis. Mereka seolah lupa bahwa mereka juga merupakan agent of change yaitu agen perubahan. Padahal kalu kita merujuk kepada five stars doctor mahasiswa kedokteran seharusnya mampu menguasai lima hal yaitu; care provider, communicator, community leader, decision maker, dan manager. Kalau kita lihat dari five stars doctor tersebut, satu-satunya yang kita dapat dari perkuliahan adalah care provider, sedangkan untuk mendapatkan yang lainnya kita harus mencarinya di luar bangku perkuliahan. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan empat bintang lainnya, seperti kita dapat mengikuti organisasi kemahasiswaan di kampus, aktif mengikui seminar-seminar, ataupun dengan rajin membaca buku-buku self-development.
Melihat fakta pergeseran idealisme seperti itu, maka sangatlah penting dicari jalan keluar untuk merevitalisasi kembali jati diri dari mahasiswa kedokteran Indonesia. Pada peringatan 100 tahun kebangkitan nasional di Makassar lalu, telah dilaksanakan sebuah deklarasi mahasiswa kedokteran Indonesia yang diberi nama Deklarasi Hasanuddin. Dimana deklarasi tersebut juga menghasilkan beberapa poin-poin kesepakatan tentang jati diri mahasiswa kedokteran Indonesia. Isi dari poin-poin tersebut antara lain; beriman dan bertakwa, agent of change, iron stock, Guardian or value, intellectuals, care provider (agent of health), decision maker, community leader, manager, communicator, integrity, agent of development, researcher, dan collegalism.
Oleh karena itu, pada peringatan hari mahasiswa kedokteran Indonesia tanggal 20 September ini, marilah kita bersama-sama merevitalisasi kembali jati diri dari mahasiswa kedokteran Indonesia. Kita kembalikan lagi idealisme mahasiswa kedokteran Indonesia sebagai agen perubahan, agen kesehatan, serta agen pembangunan serta kita kembalikan lagi peran kita sebagai ujung tombak pergerakan mahasiswa di Indonesia. Selamat hari mahasiswa kedokteran Indonesia. (/rif)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar