Minggu, 12 Oktober 2008

Mahasiswa Kedokteran Unila,,“Apa yang Salah??”

Rutinitas kembali datang. Libur seminggu Lebaran hanyalah kejapan mata bagi mereka. Terlebih aktivitas duduk, mendengar, mencatat, dalam ruang sempit yang tak memadai pun alhasil juga membuat mereka tak sadar telah melewati sucinya bulan kemarin.
Indahnya cahaya pagi terkalahkan dengan kecepatan langkah kaki yang tergopoh-gopoh menuju “Gedung Cita”. Begitupun, teduhnya petang tak sampai ke mata mereka yang terlalu lesu akan “perjuangan”. Suramnya hidup bagi mereka yang mengaku mengejar cita. Siapakah mereka??
Kawan, itulah secuplik synopsis alur biografi kami, mahasiswa kedokteran Unila. Sebuah penggalan episode yang tak pantas mendapat decak kagum bagi siapapun yang membacanya. Kenapa? Karena ada unsur serba kekurangan dibalik semua itu. Kekurangan fasilitas belajar, ruang kuliah yang hanya bisa dimaklumi kesempitannya, dosen local yang hanya bisa menjadi moderator bagi para oknum-oknum OmDo (omong doang) dalam kelas yang sok-sokan berbicara ilmiah, padahal non sense makna. Dan alhasil hanya memunculkan sederetan mahasiswa melongo melihat hasil ujian yang artistic berbentuk rantai karbon.

Hello?? Apakah yang salah dari semua ini? Apakah IQ kami begitu jongkok sehingga sesuatu yang kami anggap “perjuangan” bernilai penyesalan yang tak lepas dari pernyataan konyol “apakah kami begitu bodoh, ya Allah?”

Sekali lagi, tidak ada semestinya pengajaran yang membuat muridnya malah merasa bodoh. Apakah yang salah dari system yang serba kekurangan ini? Keadaan kekurangan juga bukanlah alasan melihat banyaknya fakta dilapangan, sebut saja film keluaran terbaru saat ini Laskar Pelangi. Nyatanya murid jebolan SD kampoung pun berhasil menembus Sorbonne University di Perancis. Lalu apa yang salah kawan?









Kedokteran Unila,,kita terlalu amatlah kecil jika dibanding Kedokteran berumur tua nun jauh disana. Amat bodohlah kita jika membuat diri kita semakin kecil lagi dihadapan tembok tua nan kokoh itu,, dengan malah mengikiskan perlahan-lahan keyakinan pada diri kita sendiri.

“Bermimpilah, maka dengan begitu Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita.”
–Arai, Edensor-
(Lintang-Kastrat BEM PFK Unila)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Persepsi yang menarik juga, tapi semua akhirnya dikembalikan ke diri masing-masing kok, ada suatu alur yang harus kita ikuti dimasyarakat dan wajib diikuti oleh profesi kesehatan manapun. Seorang dosen pernah berkata
"Seorang pasien adalah sebuah amanah dari tuhan yang wajib kita bantu semampu kita walaupun berat. Tanggung jawab itu adalah beban yang suatu saat akan kita tuai hasilnya, bisa didunia atau bila tidak nanti diakhir kelak"

mau kuliah dimanapun, lulusan apapun kalau kita sendiri tidak bisa melayani masyarakat sebaik mungkin pada akhirnya ya kita sendiri yang rugi..


saat ini kan makin banyak tuh proesi kesehatan yang hanya mengeruk keuntungan..? bukankah rezeki itu ditangan tuhan. nah tinggal jalani saja.

Id-Pharmacy at www,pharmacy.web.id